9/21/15

Kupu-kupu Besar dan Teman-temannya, Kupu-kupu Kecil

Suatu pagi, Darrel (2 tahun 11 bulan) sibuk berlarian di pekarangan sebelah rumah. Ia sibuk ingin membantu neneknya yang sedang menjemur baju dan kakeknya yang sedang menyiram tanaman. Kemudian, seekor kupu-kupu besar yang sedang hinggap dibebatuan mencuri perhatiannya. Entah bagaimana ceritanya, hingga sepulang kerja aku menemukan kupu-kupu besar itu berada dalam kantung tile di dalam rumah. Hingga menjelang tidur, Darrel teringat pada nasib kupu-kupu besar. 

"Ma, kupu-kupunya dipindahin ke belakang saja." Pinta Darrel.


"Untuk apa...? Di belakang rumah banyak tikus, bagaimana kalau kupu-kupunya malah dimakan tikus...? Sudah, biar tergantung di rak ini saja." Ya, belakangan ini memang sedang musim tikus di rumah kami bagian belakang.

Kemudian nenek Darrel mendengar dan menawarkan solusi. "Bagaimana kalau kupu-kupu ini kita lepas saja di luar rumah...?"

"Jangan... Nggak mau! Biar di sini saja kupu-kupunya." Kata Darrel.

"Eh, kalau kupu-kupunya kita lepas di luar rumah, nanti dia bisa cari makan di luar, juga bisa bertemu teman-temannya." Bujuku, dengan terus berusaha memberikan alasan yang logis dan dapat diterima.

"Teman-temannya yang kecil-kecil itu, iya...? Kupu-kupu yang kecil itu, iya...?" Tampaknya Darrel mulai bersamangat.

"Iya... Nanti dia akan senang kalau di lepas dan bertemu teman-temannya di luar rumah." Dengan semangat, aku merasa jawaban ini akan mengarah pada ending yang kuharapkan.

"Oh..  Tapi kupu-kupunya biar di sini aja, jangan dilepas. Nanti biar teman-temannya yang kecil-kecil itu yang main ke sini, nemenin di sini. " Ia bertahan dengan jawabannya yang luar biasa hingga aku dan nenek Darrel harus memberi jeda untuk percakapan kami malam itu.

8/12/15

3 Poin Penting Sebelum Masuk sekolah PAUD/Play Group

Moms, sebenernya berapa besar sih kebutuhan anak kita pada sekolah pra-TK atau yang biasa disebut Pendidikan Usia Dini (Paud) atau Play Group....? Lalu, kapan anak harus masuk Play Group....? Mungkin pertanyaan ini sering kali muncul di benak kita ketika usia anak mendekati 3 tahun dan anak sudah mulai terampil. Begitupun dengan saya, ketika Darrel memasuki usia 2 tahun 9 bulan, ketika itu dia sudah memiliki kemampuan berbicara yang baik, dapat mengerjakan beberapa pekerjaan kecil, dan teman-temannya mulai masuk sekolah. Saya sempat kepikiran untuk memasukkannya ke sekolah juga, tapi niat itu saya urungkan ketika nenek Darrel memberikan beberapa pandangan lain. Karena saya masih ragu akan keputusan-keputusan saya, maka saya sempat mengajak teman-teman saya berdiskusi tentang hal ini. Nah, dari diskusi tersebut saya dapatkan beberapa point penting yang harus Moms perhatikan sebelum Moms memutuskan untuk memasukkan anak ke sekolah PAUD/Play Group.

3 Point Penting Sebelum Masuk Sekolah PAUD/Playgroup

1. Pastikan minat anak untuk ikut aktif di sekolah.
Berapapun usianya, ketika anak ngebet pengin ikut pergi ke sekolah maka Moms boleh mencobanyanya. Coba saja dulu, jika anak merasa nyaman di sana, lanjutkan. Sebaliknya, jika anak menolak untuk pergi ke sekolah maka Moms tidak perlu memaksanya. Memaksa anak untuk pergi ke sekolah tidak akan ada gunanya, justru membuatnya berontak dan trauma. Sebaliknya, biarkan anak memiliih apa yang ingin ia lakukan, dan sebagai orang tua kita terus berikan motivasi yang baik.

2. Bagaimana kondisi lingkungan rumah kita?
Sebenarnya kebutuhan anak pada usia 3-4 tahun lebih pada kebutuhan sosialisasi dan motivasi. Anak-anak akan lebih mudah bersosialisai dengan sebayanya. Ketika tempat tinggal Moms berdekatan dengan tempat tinggal anak-anak sebayanya maka kegiatan bersosialisi akan lebih sering dilakukan, kemudian motivasi dan kepercayaan diri si anak akan lebih mudah tumbuh. Tapi jika letak rumah Moms jauh dari teman-teman sebaya si anak, maka Moms perlu lebih sering membawa anak ke tempat-tempat yang banyak teman-teman sebayanya, seperti taman bermain, memanfaatkan momen-moment seperti pemeriksaan di posyandu dan menghadiri ulang tahun teman sebaya. Tapi kadang-kadang itu tidak cukup, dan Moms bisa memutuskan untuk memasukkan anak ke sekolah PAUD/Play Group. Sekolah PAUD/Play Group adalah salah satu wadah sosialisasi bagi anak-anak Moms.
Darrel bersama teman-temannya pada perayaan ulang tahunnya yang kedua.

3. Apakah anak bersama orang-orang yang tepat...?
Ada orang tua yang bisa menemani anaknya selama 24 jam penuh, ada juga yang tidak. Orang tua yang bisa 24 jam bersama anaknya memiliki kesempatan lebih banyak mengajak anaknya untuk belajar, bermain, bersosialisasi dan terus memberikan motivasi, tapi tidak sepenuhnya bagi orang tua yang bekerja di luar rumah. Bagi Moms yang bekerja di luar rumah dan mempercayakan anaknya kepada orang lain selama bekerja (pengasuh atau nenek) maka harus mengamati, bagaimana cara pengasuhan mereka. Apakah anak sering diajak berkomunikasi...? Apakah anak sering di berikan motivasi atau tidak..? Apakah anak diberi kesempatan untuk bersosialisasi di luar rumah atau tidak...? Setelah beberapa pertanyaan tersebut terjawab, Moms bisa menyimpulkan apakah Moms cukup dapat memepercayakan pengasuhan anak pada orang-orang yang ada di rumah atau Moms perlu memasukannya ke sekolah PAUD/Play Group
Darrel sedang mengagumi trail pada Parade Trail 2015, bersama teman-teman satu gang.

Setelah melakukan diskusi dengan beberapa teman, dan mendapatkan 3 poin penting di atas, saya jadi lebih mantab dengan pilihan saya menunda saat memasukkan Darrel ke sekolah PAUD/Play Group. Pertimbangan saya adalah, di sekitar tepat tinggal saya ada banyak anak-anak sebaya Darrel yang sering berkumpul dan bermain bersama maka ia cukup memiliki wadah untuk bersosialisasi. Pengasuh Darrel yang menjaganya selama saya bekerja juga memiliki kemampuan mengasuh yang baik, ia sangat komunikatif. Ia senang memberikan penjelasan-penjelasan yang logis pada Darrel dalam memberikan aturan maupun menjawab setiap pertanyaan Darrel. Ia juga memberikan Darrel jadwal rutin untuk bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Namun di luar itu semua, saya tetap berusaha mengamati minat Darrel untuk pergi ke sekolah dengan sesekali membawanya bermain ke sekolah terdekat. Ia senang berada di sana, tapi menatnya belum begitu besar. Maka saya akan terus memantau kedepannya.

Semoga 3 poin penting ini bermanfaat bagi Moms yang memiliki kegalauan yang sama dalam memasukkan anak ke sekolah PAUD/Play Group.

Terima kasih juga untuk teman-teman diskusi saya:
Adinda Dwitami, Veny Nurhandari, Cari Wijayanti, Niken Tripamikat Ingtyas, Nur Asyikin, Ginanjar Dimas Agung, Bronie Nira, Puz Brahim.



8/3/15

Sampah di Rumah Kita

 Berpikir tentang apa yang bisa kita lakukan untuk hidup kita, apa yang bisa kita lakukan untuk anak kita, apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain, hewan, tumbuhan. Cukup! Itu semua bagian dari lingkungan. Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk lingkungan kita? Setidaknya, yang ada di sekitar kita.

Tak akan terasa berapa banyak yang kita lakukan untuk memenuhi konsumsi kita sehari-hari. Berapa banyak tenaga & waktu kita untuk bekerja, mendapatkan uang kemudian kita curahkan untuk konsumsi kita.

Dan di abad ini segala sesuatu telah diproduksi oleh pabrik dalam skala besar untuk memenuhi kebutuhan kita yang tiada habisnya. Agar barang tidak mudah busuk atau rusak maka pabrik menambahkan pengawet. Agar barang tampak menarik, pabrik menambahkan pewarna, pewangi, dan polesan. Dan, agar barang tidak mudah hancur saat didistribusikan, pabrik membuat kemasan terbaik untuk produk mereka.

Sebagai konsumen tentu kita senang ketika dimudahkan. Setiap saat kita membutuhkan sesuatu, kita tinggal membelinya dari toko-toko terdekat. Tentu saja setiap barang dibungkus dalam kemasan. Lalu akan ada berapa banyak kemasan dalam satu rumah, dua rumah, tiga rumah. Banyak sekali. Apa rumah kita memiliki space yang cukup untuk menampung kemasan-kemasan itu? Apa TPA yang ada tetap akan muat? Apa lahan di bumi ini bisa melebar demi menampungnya? Di sisi lain, pabrik juga terus beroperasi, memproduksi barang sekligus dengan kemasannya, semakin lama semakin banyak.

Oke, sekarang lebih spesifik pada permasalahan sampah saja. Sebenarnya, ini bukan isu yang baru. Bahkan pendidikan tentang sampah sudah disisipkan kesegala lapisan. Sekolah-sekolah, pemerintahan, sudah banyak melakukan edukasi, tapi rasanya semuanya hanya sesaat. Padahal umur bumi masih panjang. Bukankah semestinya kecintaan kita pada lingkungan juga harus terus-menerus. Bahkan, semestinya kecintaan ini juga kita turunkan pada anak cucu kita. Mungkin berbuat untuk sesuatu di luar diri kita itu tidak lebih ikhlas dibandingkan untuk diri sendiri. Jadi, mari kita bahas berapa pentingnya mengelola sampah bagi diri kita sendiri, baru kemudian untuk yang lain.

Sebenarnya, mengapa kita mesti mengelola sampah kita?
Mari kita berbicara tentang kuantitas. Jumlah sisa kumsumsi kita (a.k.a kemasan, a.k.a sampah) akan terus bertambah setiap harinya, sedangkan rumah kita tidak bertambah luas, sedangkan tempat sampah yang ada di rumah sebentar-sebentar pasti penuh. Apakah kita akan tidur, makan, bersantai bersama gunungan sampah di rumah kita? Sedangkan gunungan sampah di rumah adalah habitat yang mendukung pertumbuhan bibit penyakit.

Jadi, apa yang bisa kita perbuat?
Kelola sampah! Kita sering mendengar tentang 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Tentu saja itu bukan sekedar slogan. Pertama, yang perlu kita lakukan ialah, memilahnya sesuai jenis dan kegunaan. Ketika, Moms menyimpannya secara terpilah dan menatanya, maka koleksi barang bekas (a.k.a sampah) Moms akan tampak lebih rapi, meminimalisirnya dari sarang penyakit, dan Moms akan mudah mendapatkannya ketika akan menggunakannya kembali. Mari kita terapkan di rumah kita, Moms.

Apa yang harus kita lakukan pada sisa makanan di rumah kita?
Jika Moms memiliki hewan piaraan di rumah, seperti ayam, atau ikan (khususnya lele), maka Moms bisa menjadikannya campuran makanan bagi mereka selagi kondisi sisa makanan dirasa cukup aman untuk konsumsi mereka. Jika tidak, Moms bisa menggunakan komposter sederhana untuk mengurainya kemudian hasil kompos dapat Moms gunakan untuk menyuburkan tamanan di sekitar rumah. Ini yang namanya mereduce. Dengan begitu, tidak akan ada gunungan sisa makanan yang membususk, berbau, dan menjadi sumber penyakit di rumah kita. 

Apa yang harus kita lakukan pada bungkus atau kemasan?
Oke, setiap barang mungkin akan dapat kita gunakan kembali. Misalnya kaleng bekas untuk pot atau gayung, kardus bekas untuk pembungkus paket atau sebagai storage. Begitu juga dengan kresek, tetrapack, botol, dll. Ini yang namanya reuse. Hanya butuh sedikit kreatifitas, Moms. Dan dengan metode reuse  ini, Moms tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli barang-barang baru yang akan membuat rumah terasa lebih penuh dan sesak. Hidup hemat dengan reuse, Moms!

Ini sampah rumah kami yang sudah dipilah.
Sebagian sudah dijual ke pengepul.
Tapi jika, beberapa benda tidak dapat kita manfaatkan lagi secara pribadi, atau Moms tidak punya banyak waktu untuk melakukannya, atau sekedar malas untuk melakukannya, maka solusi berikutnya setelah memilah dan menata adalah menghubungi orang-orang yang tepat. Ada beberapa peternak dan pengelola kompos yang siap menampung sisa makananmu, Moms. Silahkan menghubungi mereka untuk mengambil dan mereducenya. Di luar sana, ada beberapa pengrajin dan pengepul sampah yang bisa Moms hubungi untuk menampung kemasan dan barang bekas di rumah. Secara langsung, pengrajin dengan senang hati mereuse sampah Moms menjadi hasil kerajinan bernilai jual tinggi. Dan pengepul sampah akan menyalurkan sampah-sampah Moms pada pihak yang tepat, pabrik recycle plastik, kertas, atau bahkan menjualnya ke pihak yang mampu mereuse barang-barang seperti botol dan teman-temannya. Moms bisa memberikannya secara cuma-cuma atau menerima imbalan dari semua itu. Tentu saja, selain masalah sampah di rumah terselesaikan, Moms juga mendapatkan manfaat secara ekonomi dari 3R ini.

Selain 3R, satu hal yang juga harus terus kita pertahankan khususnya bila berada di tempat umum adalah membuang sampah pada tempatnya. Mari kita biasakan mebuang sampah pada tempat sampah dengan label yang benar. Membuang sampah pada tempat sampah dengan label yang benar dapat mempermudah pekerjaan orang lain dalam mengelola sampah kita.

Percayalah, Moms... Dengan selalu membuang sampah pada tempatnya dan mengelola sampah di rumah sendiri, Moms telah melakukan edukasi yang benar. Kebiasaan ini akan menginspirasi anak-anak dan orang di sekitar kita. Jika ini dilakukan terus-menerus oleh kita, oleh anak-anak kita, dan orang-orang disekitar kita, kemudia orang-orang di sekitar mereka, maka kita tidak akan terlalu merisaukan nasib anak cucu kita kelak, karena bumi tempat mereka tinggal kelak tidak akan lebih sempit seperti jika kita tidak pernah berbuat apa-apa pada sampah.

Ini bukan hal besar, tapi akan luar biasa hasilnya jika kita mau melakukannya.

7/9/15

Menjadi Ibu yang Cantik

Siapa bilang menjadi seorang ibu itu identik dengan penurunan kualitas kecantikan....? Menjadi seorang ibu, secara fisik mungkin akan banyak perubahan pada tubuh kita. Ada yang bilang bahwa otot-otot kita akan semakin kendur. Belum lagi banyaknya aktifitas dalam fase baru menjadi ibu kadang sampai menyita waktu kita untuk merawat diri. Tapi jangan salah, bahwa perubahan yang terjadi pada seorang wanita mana kala ia menjadi ibu tergantung pada cara berfikirnya. Seorang ibu yang menjalani tanggung jawabnya dengan fun tidak akan merasa terbebani dengan kodrat keibuannya tersebut. 

Katika seseorang mampu menikmati hidupnya saat itu juga, maka aura kecantikannya justru akan terpancar keluar.

Seperti bagaimana mempertahankan ukuran tubuh kita. Banyak yang mengamini, bahwa mengurus sendiri anak kita sejak ia lahir, selain baik untuk kualitas perkembangan si anak juga baik bagi kesehatan jiwa dan raga seorang ibu. Tanpa sadar aktifitas mengurus anak atau bayi akan membakar lemak-lemak tubuh yang sudah tidak diperlukan paska melahirkan. Bayangkan saja, tingginya aktifitas menimang saat bayi rewel karena harus beradaptasi pada dunia baru, dan frekuensi menyusui serta mengganti popok yang luar biasa, pada akhirnya akan setara dengan olah raga yang biasa dilakukan di gym. Hasilnya, tadaaaaa.... Banyak ibu-ibu yang berhasil kembali tampil segar seperti sebelum kehamilan.

Belum lagi soal wajah. Adakah yang khawatir kalau aktifitas seorang ibu yang padat (entah untuk melakukan aktifitas domestik rumah tangga atau dalam karir) mampu membuat wanita tampil tidak cantik lagi karena tidak ada waktu ke salon atau mengenakan make up...? Semestinya kita kembali berfikir bahwa ada kecantikan alami yang dikaruniakan Tuhan pada wanita. Bahwa tampil cantik tidak harus dengan make up. Dalam bahasa religi, kecantikan hadir karena keimanan seorang wanita. Dalam bahasa psikologi, kecantikan akan dihadirkan oleh jiwa yang positif. Tentu saja semuanya benar, ketika kita dalam keadaan yang tidak baik secara psikologis maka secara tidak sadar akan banyak kerut di wajah kita. Dan kerutan di wajah tentunya akan mempercepat proses penuaan dini. Di samping itu kalu bete terus, mana ada kemauan merawat diri. So Moms, nikmati harimu sebagai ibu dengan fun, karena kodratmu sebagai ibu adalah anugrah. Dengan hati yang fun, semangatmu merawat diri juga akan besar. Cantiklah untuk kebahagiaanmu, anak-anakmu,  dan suamimu. Karena menjadi cantik adalah mudah. Cukup tampilah bersih, sehat, dan bahagia. 

Ngomong-ngomong tentang kebersihan, khususnya untuk wajah. Ada satu produk pembersih wajah yang kusuka. Bahkan sejak masih teenage aku sudah pake ini. Clean & Clear Essential Facial Wash dari Johnson & Johnson. Pembersih wajah ini berbentuk cair, dengan aroma yang sangat ringan, jadi bagi yang sensitif sama aroma-aroma gak perlu khawatir dibikin pusing. Pada botol tertulis "oil free", itu penting banget karena pada umumnya masalah kebersihan wajah disebabkan oleh kelebihan minyak. Belum lagi, minyak pada wajah adalah salah satu perkara penyebab jerawat. Cara  pakainya, basuh muka dengan air, lalu tuangkan sedikit Clean & Clear Essential Facial Wash di telapak tangan, gosok hingga berbusa, kemudian ratakan pada wajah dan basuh kembali dengan air hingga bersih. Setelah cuci muka pakai Clean & Clear Essential Facial Wash, wajah rasanya seger dan nyaman meski tanpa make up. Menurut pengalamanku produk ini gak bikin kulit kering lho. Terakhir, aku suka sekali botol kemasan yang 50 ml. Selain aman karena tutup botol ulirnya bikin gak mudah tumpah, kemasan yang 50 ml sangat ramah masuk kantung. Maksudnya, cukup mungil dan mudah dibawa kemana-mana.

Oke, apapun pilihanmu. Jadilah Cantik dan Bahagia ya Moms!

7/8/15

Anakku Berfikir Tentang Tanggung Jawab

Pada suatu malam, beberapa waktu yang lalu Darrel (2th 8bln) menangis karena tangannya terkilir saat bermain. Pas mau dikasih minyak gosok buat nyembuhin, dia menolak. Dia minta minum obat saja, tapi aku bilang bahwa kami tidak menyimpan obat untuk tangan terkilir. (Malam sebelumnya kami membaca cerita tentang anak yang sakit harus minum obat agar cepat sembuh, dan ternyata saat itu Darrel benar-benar mencamkannya). 

Dalam gendonganku, tiba-tiba Darrel melirik sebuah botol besar berisi talk 300gr, kemudian dia memintaku untuk menggosok tangannya dengan talk agar lebih nyaman. Aku membuka lubang botol talk kecil-kecil agar tidak mudah tumpah, kemudian menggosoknya. Setelah aku selesai menggosok tangannya, Darrel berinisiatif untuk menggosok tanganku juga. Aku berbaring, dan Darrel menggosok tanganku. Saat itu sudah hampir jam 10 malam. Tak terasa aku tertidur saking ngantuknya. Puk.. puk... aku terbangun oleh tangan yang menepukku. Whaaaa... Kagetnya minta ampun. Kasur tempatku berbaring sudah rata penuh talk. Pas aku angkat botol talk isi 300gr itu ternyata sudah ringan dan kosong. Darrel tertawa-tawa melihatku. Tanpa memarahinya, aku segera membersihkan kasur dan mengganti baju Darrel. Aku tidak mau ribut malam-malam, lagi pula menurutku memarahinya adalah perbuatan yang memperpanjang masalah dan bisa berdampak pada trauma.

Aku kemudian cuma bilang "Yaahh... Kalu kaya gini habis kan talknya."

Darrel langsung menjawab "Ya beli lagi aja.."

Aku bilang "Belinya kan di jogja, jauh... Jadi kita gak bisa beli sekarang."
Esok paginya Darrel bangun pagi-pagi sekali. Agak rewel, mungkin karena dia masuk angin. 

Pas aku gendong di dekat rak (tempat kami mengambil botol talk semalam) tiba-tiba dia bilang "Ma, kalu udah gede aku ke Jogja sendiri ya Ma... Naik bis sendiri..."

Tanpa berfikir macam-macam aku bilang saja "Iya..."

Karena penasaran, kenapa tiba-tiba Darrel mau ke Jogja, kulanjutkan dengan pertanyaan "Naik bis ya...? Ke Jogja mau ngapain Darrel...?" (aku mikirnya, dia akan bilang "mau ke rumah eyang" seperti biasa)

Eh ternyata Darrel bilang "Mau beli talk..."

Up's! Eh, astaga... Ternyata Derrel merasa bertanggung jawab atas insiden malam itu. 

Isi kepala anak-anak memang luar biasa. Sebagai orang tua sebaiknya kita cukup berhati-hati pada ucapan atau attitude kita, khususnya di depan anak. Katakan dan lakukan segala sesuatu dengan cara yang baik karena orang tua adalah role mode bagi anak. Memberikan penjelasan yang logis kepada anak akan berdampak baik pada cara mereka berpikir dan bersikap.

Monolog Menjelang Tidur Siang

Ceritanya, beberapa bulan yang lalu Darrel sempat melakukan imunisasi di Polindes tanpa kehadiranku. Maklumlah jam imunisasi yang ditetapkan Polindes adalah jam kerja, dimana aku juga harus bekerja pada saat itu. Mungkin saat itu Bidan Desa juga sempat ngobrol dengannya, seperti menanyakan "Mana Mamanya?". Imunisasi berikutnya, aku hadir bersamanya untuk melakukan imunisasi. Bidanpun menanyakan hal yang sama, "Mana Mamanya?" dll.

Suatu siang, dikala week end. Kami bertiga, aku, Darrel (2tahun 8bulan), dan ayah bersiap untuk tidur siang. Kami semua sudah berbaring di tempat tidur, tapi Darrel tidak juga memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, dia duduk di tempat yang sama kemudian berbicara seolah-olah sedang ngobrol dengan seseorang.

"Aduuhh..."
"Gak papa ya..? 
"Yaa...?" 
"Gak papa yaa..."
"Anak pinter kok."
"Ini mau disuntik, gak papa ya.." 
"Gak sakit kok." 
"Mana Mamanya...?"
"Mamanya kok gak ada?" 
"Mamanya mana?" 
"Yang itu?" 
"Yang itu...?" 
"Bukan...?" 
"Oo... Ini to Mamanya."

Rasanya geli sekali mendengarnya. Tapi di sisi lain Darrel berbicara tentang perasaannya, di mana dia sangat mengharapkan kehadiranku pada moment yang menurutnya penting seperti saat melakukan imunisasi.

7/4/15

Membiasakan Si Kecil Pergi ke Masjid

Ramadhan tahun ini Darrel (2th 8bln) hampir tiap hari pergi ke masjid sama ayahnya. Menurut cerita ayah, sejauh itu tidak pernah ada masalah tiap kali Darrel pergi ke masjid. Hanya saja, tiap kali pulang rambutnya selalu basah kuyup penuh dengan keringat.

Suatu hari aku juga pergi ke masjid bersamanya, meski Darrel cukup sulit diam, dia tetap menjaga suaranya. Hanya saja Darrel sempat tabrakan sama temennya pas lari-larian, terus nangis dehh. Saat itu aku pikir ini biasa aja.

Hari berikutnya, aku pergi ke masjid lagi bersamanya. Sebelum berangkat aku memintanya untuk tetap bersikap baik. Yasalamm... Ceritanya kami duduk di shaff belakang, dimana shaff depan kami juga ada anak laki-laki yg sebaya dengan Darrel. Awalnya tidak ada masalah, tapi Darrel mulai tidak bisa diam. Beberapa kali dia naik ke punggungku saat sujud. Waktu itu aku berfikir dia hanya akan melakukannya padaku (setahuku Darrel cukup menjaga sikap pada orang asing). Setelah berputar-putar di area sajadah, ia mulai berinteraksi secara fisik dan kode dg anak laki-laki di depannya. Beberapa menit kemudian, dia pergi ke shaff depan dan tiba-tiba menaiki punggung salah satu jamaah yg sedang sujud. Aduhh, sampe ngerasa benar-benar gak enak. Si anak laki-laki itu dengan suara pelan membujuk Darrel untuk pergi ke shaff ayahnya, tpapi Darrel menolak.

Bahkan dengan volume yg keras, dia bilang ke anak itu "Gak mau, aku di sini aja. Kita duduk di sini aja ya, gak papa. Tak temeni yaa..."

Berusaha mengendalikan situasi, aku mengajak Darrel pindah ke tempat yang agak berjarak sebelum jamaah witir dimulai. Tidak tahunya, pas ditinggal shalat dia malah nyamperin temennya.

Darrel bilang "Ayo, kamu ke sini. Gak papa, gak ada masalah kok. Ayo, tak temenin ini lhoo..."

Berikutnya dia malah nasehatin temennyai "Kalu di masjid itu gak boleh rame, yaa..." (tp dia ngomong pake volume yang keras). *tepok jidat

Entah sejak menit ke berapa mulainya, semua begitu cepat. Darrel dan anak laki-laku itu lari-larian gak berhenti di tengah masjid sambil teriak-teriak "Awass!!! Tembak!!! Duerrr derr derr....!!!" (Sampai shalat jamaah usai).

Note: 
Sebelumnya Darrel gak pernah main tembak-tembakan sama sekali, mungkin ini efek nonton film action bersamaku di TV pd malam sebelumnya.

Alhasil, shalat gak khusyu dan kami pulang dg muka pucat speechless. Entah bagaimana ceritanya sampai Darrel kelebihan energi begitu banyak malam itu. 

Untuk sedikit menata gejolaknya, malam stelah itu kami memutuskan untuk shalat di rumah dulu. Tapi malam-malam berikutnya Darrel kami ajak ke masjid lagi. Tidak bisa diam itu masih, wajarlah usia 2 tahunan memang masanya anak-anak aktif. Setidaknya Darrel sudah gak teriak-teriak lagi, semakin hari semakin mengerti dan terbiasa dengan suasana masjid yang tenang. Itulah cara kami membiasakan Darrel dengan masjid.