Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

6/22/16

Balon yang Tidak Dijual

Ee, tau gak sih Moms... Kalau mau memperhatikan, dari waktu ke waktu perkembangan anak kita itu amzing banget dehh... Suka bikin Mommy jadi, "Eh, apa...? Gimana dek..?". Gitulah pokoknya, kehabisan kata-kata buat menggambarkan ketakjuban kita sama perkembangan anak. Nah, yang paling kelihatan nih, soal ide dan kata.

Kemarin, Darrel (3,8 tahun) pergi ke pasar bareng sama neneknya. Darrel dari dulu kan memang suka banget sama mainan dan suka banget bermain. Nah, pas Darrel dan Nenek sampai di depan pasar nampaklah sebuah pemandangan yang tak mampu Darrel lewatkan. Sesuatu yang melambai-lambai di udara. Warnanya yang indah sungguh merayu, berlatar langit pagi yang biru nan cerah. Sesekali tertiup angin dan bergoyang. Seakan ingin dimiliki. Begitupun, mata Darrel yang terpesona tak mampu berpindah pada yang lain. Balon!

Darrel menginginkan balon yang dijual di pinggir jalan, di luar pasar itu. Ia sungguh terpesona dan ingin memilikinya.

Tapi apa dikata, sudah terlalu sering Darrel membeli mainan dan sudahlah Si Nenek kehabisan kata untuk membujuknya. Sehingga Si Nenek bilang kalau:

"Balon yang di sana, tidak dijual."


Seketika, wajahnya menjadi suram dan matanya berkaca-kaca. Ia begitu kecewa, namun tetap berusaha menerimanya. 

Selesai berbelanja, berjalanlah Darrel dan Nenek keluar pasar melintasi segerombol balon yang diikat dan melayang di langit biru pagi itu. Sambil berlalu, tak bisa lepas ia menatapnya, dan berkata:

"Tukang balonnya, kok sekarang gitu sih...?"

"Mang kenapa kok gak mau dijual?" 

"Aku kan gak suka!"

"Nanti, kan kasihan anak-anak kecil gak bisa bermain."

"Coba, anak-anak kecil mau main pake apa kalau gitu?"


Moms, mau kasih jawaban apa kalau anaknya nanya gitu?
Pasti, speechless dulu sebelum bisa kasih jawaban.
Anak-anak memang amazing Moms!

5/10/16

Tanggung Jawab Orang Tua dalam Menghindari Laka Lantas yang Melibatkan Anak

Pada dasarnya saya memang suka gak tahan kalau lihat korban laka lantas di jalanan. Dada ini rasanya tiba-tiba jadi sesak. Apalagi kalu korbannya anak-anak, suka bayangin betapa mereka harus merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa. Suka gak terima rasanya... *entahlah gak terima sama siapa

Akhir-akhir ini sering sekali terjadi laka lantas di Jalur Lintas Selatan Pacitan. Termasuk pagi ini di Rute Lorok-Sudimoro dengan korban seorang anak kecil. Entahlah faktor apa yg paling dominan menjadi penyebabnya. Faktor jalan yang berliku, dan naik-turun kah...? Pertumbuhan kendaraan bermotor yang pesat kah...? Karena saat ini hampir semua orang memiliki kendaraan pribadi. Kurangnya kesadaran lalu lintas kah..? Atau malah sklill pengendara yang tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor...? Dan yang paling menonjol adalah kurangnya kesadaran akan safety driving.

Tiap pagi saat saya pergi kerja, atau bahkan dalam keseharian saya suka ketemu orang tua yang bonceng anaknya sambil kebut-kebutan (ini bapak-bapak juga ibu-ibu lhoo..). Belom lagi anaknya ditaroh di depan tanpa pelindung apa kek apa kek. Topi enggak, jaket enggak, masker enggak, kaca mata enggak, helm enggak. Ada lagi yang lebih jomplang, orang tuanya pake jaket kulit, sepatu, sama helm INK yang konon safety, terus anaknya teteup ditaroh depan gak pake apa-apa, ngebut, dan perjalanan jauh. Ada juga yang berani2nya bawa anak bayi baru berumur beberapa bulan naik mitor lintas kota, katakanlah pacitan-jogja yg maka  waktu paling cepet 4 jam, belum lagi kalau jogjanya coret nambahlah itu waktu berkendara. Parahnya lagi, suka ada yg kaya gitu, bayinya gak di kasih tutup kapala, terus ditaroh samping yang anginnya kenceng. Iki pie to karepe ...? Ora eman anak po yo...? (Ini apa sih maunya...? Gak sayang anak apa ya...?) Padahal, untuk kasus yang bayi ini ya, akan lebih bijak naik kendaraan umum yang seperti bus dan trevel.

Oke, itu tadi yang motor, sekarang yang mobil. Kemarin pas pulang wisata saya dapat pemandangan dari depan mobil, ada anak yang kepala, tangan, dan setengah badannya dikeluarin dari jendela dalam perjalanan beberapa kilometer. Di mobil itu banyak yang naik, malah dideket anak itu duduk beberapa ibu-ibu. Kok ya gak ada yang negur si anak demi keselamatannya. Beberapa kilometer saya perhatikan, si anak dibiarkan saja dengan tingkahnya. Kok bisa gitu ya...? Apa mereka gak eman (sayang) sama si anak...? 

Gak usah lah jauh-jauh, pada suatu perjalanan, ada seorang handaitaulan yang sedang mengemudikan mobil dan Darrel yang masih usia 3,5 tahun duduk di sampingnya. Demi keamanan, saya pasangkan sabuk pengaman di badan  Darrel, apalagi beliau mengemudi cukup ugal-agalan. Mungkin beliau merasa Darrel jadi kurang leluasa, kemudian tanpa meminta persetujuan saya, beliau melepas sabuk pengaman di badan Darrel. Beliau kemudian meminta Darrel untuk berdiri saja supaya bisa melihat-lihat pemandangan sepanjang jalan. Coba, pikir! Apa sebenarnya di benak beliau...? Spontan saya laranglah Darrel yang masih kecil bertingkah seperti itu, langsung saya minta untuk duduk bersandar dan berpegangan supaya aman. Kedengeran parno gitu yaa...? Woohh ra ngerti lek nyupir koyo opo sih! Demi apa? Demi anak kita tidak harus menderita karena kebodohan orang tua! Catet!

Kembali lagi ke kasus laka lantas yang sering menjadi pemandangan pagi hari saya saat berangkat kerja. Anak-anak yang terlibat laka lantas di pagi hari di jalanan itu kebanyakan adalah anak-anak dari Kecamatan Sudimiro yang bersekolah di Daerah Lorok. Bahwasanya menurut opini publik, di Daerah Lorok banyak sekolah-sekolah yang lumanyan berkualitas untuk ukuran daerah saya (PAUD, TK, SD, SMP, SMAs segera bekerja. Kebut-kebutan sudah jadi pemandangan sehari2. Padahal ada banyak alternatif aman untuk menjadikan anak mereka terdidik dengan baik.

1. Sekolahkan anak di sekolah terdekat. Perjalanan jauh setiap hari tidak baik untuk kesehatan anak. Toh, sekolah terdekat pasti memiliki kualitas yang baik yang anda mungkin tidak tahu. Dan ketika anak Moms kurang berkembang jangan salahkan sekolah karena sekolah di manapun peran orang tua di rumah lebih berpengaruh dalam pendidikan.

2. Tempatkan anak di asrama atau kos. Kalau nekat pengen sekolah di tempat yang jauh dari rumah, maka alrernatif ini akan mengurangi resiko kesehatan dan jiwa anak Moms.

3. Ikutkan mobil/bus jemputan. Sama-sama melakukan perjalanan setiap hari, tapi akan lebih aman dan nyaman bagi kesehatan dan jiwa anak Moms. Anda tidak akan terlalu diresahkan oleh jam terlambat masuk sekolah atau kerja.

Itu saja mungkin yang bisa saya sarankan.

Selama orang tua sadar betapa berharganya jiwa seorang anak, mereka seharusnya sadar akan menajaga keamanannya.

Dan anak-anak bukan manusia kecil tetapi manusia yang belum dewasa.  Jadi kitalah yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka Moms!

4/7/16

Suport Orang Dewasa Ketika Terjadi Kecelakaan Ringan pada Anak

Kemarin sore, sepulang kerja aku mendapatkan Darrel (2 tahun 11 bulan) sedang duduk bermain di lantai. Haii... Dia menyambutku, dan akupun bergabung dengannya di lantai. Kami sibuk bermain bersama. Beberapa saat, tiba-tiba nenek Darrel terdengar mengeluarkan kendaraan dari garasi. Darrelpun cepat-capat berlari mendatangi sumber suara.  Ia benar-benar ingin tahu kemana neneknya akan pergi. Tepat di depan pintu ia menurunkan kakinya, kemudian ia menjerit dilanjutkan tangisan tak berujung. Aku benar-benar bingung apa yang telah terjadi. Setelah kami (aku dan ibuku) berhasil menenangkannyan, ibuku menjelaskan apa yang terjadi siang tadi:

Siang tadi Darrel sedang menari dan berloncatan. Belakangan ini ia sedang gandrung dengan topeng dan Tarian Reog, maka ia senang sekali memakai Topeng Reok sambil menari, berputar-putar, dan berloncatan. Saking semangatnya dalam menari, ia tidak memperhatikan posisi kakinya kemudian terjatuh. Kemungkinan kakinya terkilir. Hingga dia merasa kesakitan bahkan ketika disentuh. Dengan sigap siang itu nenek Darrel segera memberikan pertolongan pertama. 

Sore itu kami tetap merawat kakinya, Darrel memang cukup kooperatif dalam setiap perawatan kesehatannya. Hingga malam hari, ia sangat ceria meski suhu kakinya terbilang cukup hangat dari biasanya. Darrel tidak mengeluh jika ia tidak harus berdiri. Malam itu kami terus mengamati apakah kakinya cukup kuat atau tidak untuk berdiri ataukah rasa trauma yang membuatnya enggan berdiri. Akhirnya kami menyimpulkan bahwa  kondisi kaki Darrel suadah baik, namun karena trauma, maka ia tidak mau berdiri sendiri kecuali dengan bantuan, dipapah, atau digendong. 

Ya ditlatenin aja, sampai ia percaya bahwa kakinya sudah cukup kuat untuk berjalan sendiri

Suport Orang Dewasa Ketika Terjadi Kecelakaan Ringan pada Anak:

1. Berikan Pertolongan Pertama
2. Tenangkan
3. Amati perkembangannya
4. Berika perawatan lanjutan
5. Ucapkan kalimat-kalimat positif yang menghibur dan memotivasi anak bahwa ia dapat melewati masa itu dengan kuat
6. Jangan paksa anak untuk menuruti kemauan anda
....



#latepost

Darrel dan Drum Milik Ayah

Setelah menemukan sepasangng stick drum dibawah meja secara tidak sengaja, tiba2 saja Darrel (2th, 8bln) memintaku mengambil drum milik ayah yang sudah lama kami simpan di gudang. Setelah aku bersihkan dia mulai dengan aksinya. Dia memainkan drum dan memintaku bernyanyi. Kami bernyanyi bersama, menari bersama, dan menuntaskan segala tawa siang ini. Pestaa...



#latepost

Semua Kok Pergi-pergi

Kemarin pagi, Darrel (2th 8bln) baru bangun pas aku mau berangkat kerja. 
Aku cium dia, aku pamitin, dan aku pesenin, "Nanti makan pake telur ya, Dek..." (nyadar gak sempet nyiapin sarapan sblm berangkat). 

Gak lama kemudian ayahnya juga berangkat, berikutnya kakeknya, terakhir dia lihat neneknya keluar rumah. 

Darrel bilang "Mau kemana, Ti? Aku ikut!". 

Si Nenek bilang "Mau pergi, kerja. Kamu dirumah aja." 

Sambil berlalu Darrel bilang "Semua kok pergi-pergi."
....


#latepost

Majalah Untuk Darrel

Adalah beberapa majalah lama yang belakangan lagi suka dibuka-buka sama Darrel (2th 8bln). Ada Media Pintar, Tuki, sama Percik Yunior. Sebenernya majalah ini untuk usia anak yang lebih besar, karena meski banyak gambar-gambarnya juga banyak terdapat tulisan di dalamnya. Secara umum, majalah ini berisi tentang pendidikan lingkungan. Dan, kebanyakan yg bisa diserap oleh Darrel adalah tentang menjaga kebersihan dan kesehatan. Seperti bagaimana cara mencuci tangan, kapan mencuci tangan, kenapa harus mencuci tangan. Di mana harus membuang sampah, kenapa sampah gak boleh di buang sembarangan, dll. 

Biasanya Darrel memintaku untuk menceritakan bagaimana cerita dalam komik atau gambar2 yg ada disana. Nah, kalu udah tahu ceritanya, besok atau lusa Darrel bakalan nunjukin majalah itu ke kakeknya, neneknya, ayahnya, temannya, atau siapa aja sambil ngejelasin isi cerita dalam majalah itu. Jadi kayak agen lingkungan gitu yak...

Nah, bangganya lagi... dalam majalah-majalah yang disukai Darrel ini ada beberapa karyaku. Hehe..
Ini adalah salah satu komik yang terdapat pada Majalah Percik Yunior,
dan gambar yang ada di sana adalah karyaku.

#latepost

Menjadi Ibu & Mengasuh Anak

Bagi sebagian orang menjadi ibu adalah mudah, tapi sebagian orang mengatakan bahwa itu tidak mudah. Bukan saja karena menjadi ibu membuatnya enggan, bukan. Banyak hal berbeda terjadi pada wanita yang berbeda. Contohnya saja saya.

Saya dibesarkan oleh keluarga yang lengkap yang tidak kekurangan dan tidak juga mewah. Ayah saya bekerja dan ibu saya full mengurus rumah tangga. Saya tidak pernah bilang ibu saya adalah wanita yang enak-enakan atau tinggal ongkang-ongkang di rumah. Kendati tidak bekerja mencari uang di luar rumah, ternyata pekerjaann ibu saya sangat banyak dan menyita waktu. Dan siapa saya...? Saya adalah seorang anak yang dari kecil aktif di luar rumah. Orang tua saya mendukung penuh apa yang saya lakukan di luar rumah sejak kecil. Ibu saya bahkan selalu membantu dan memudahkan semua yang saya lakukan. Meski demikian, saya bukan orang yang meutup mata pada pekerjaan domestik rumah tangga. Meski saya tidak ahli dan saya tidak bisa rutin menanganinya, tapi saya senang melakukannya. Sampai saat ini pun saya senan melakukannya. 

Yap, saya adalah pribadi yang dengan penuh kesadaran dan semangat mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga, tapi minus dalam mengasuh anak kecil. Entah kenapa, dari kecil saya memang tidak terbiasa mengasuh anak yang lebih kecil, bahkan sekedar mengajaknya bermain. Hingga saya terus mencoba dan mencoba. Di bangku kuliah, saya merasa butuh untuk mendekatkan diri pada anak-anak, karena saya menyadari bahwa mereka terlalu asing bagi diri saya. Saya mencoba terlibat sebagai relawan dalam beberapa kegiatan yang diadakan oleh lembaga non provid yang dekat dengan anak-anak. Di sana saya merasakan sedikit kemajuan. Hingga akhirnya saya menikah dan hamil. Selama kehamilan, saya terus belajar dan berusaha. Saya juga menanamkan keyakinan dalam diri saya bahwa "naluri ibu" akan saya dapatkan secara alami seiring kelahiran anak saya kelak. Tapi banyak hal baru yang tidak saya sangka sebelumnya setelah kelahirna anak saya, dan saya merasa jauh dari kata mampu. Ternyata anak-anak memang luar biasa. Menarik. Misterius. Tidak mudah ditebak. Dan... Sangat Menantang! Berapapun tantangan yang telah berhasil kita takhlukan, tidak akan semenantang Menjadi Ibu dan Mengasuh Anak.

9/21/15

Kupu-kupu Besar dan Teman-temannya, Kupu-kupu Kecil

Suatu pagi, Darrel (2 tahun 11 bulan) sibuk berlarian di pekarangan sebelah rumah. Ia sibuk ingin membantu neneknya yang sedang menjemur baju dan kakeknya yang sedang menyiram tanaman. Kemudian, seekor kupu-kupu besar yang sedang hinggap dibebatuan mencuri perhatiannya. Entah bagaimana ceritanya, hingga sepulang kerja aku menemukan kupu-kupu besar itu berada dalam kantung tile di dalam rumah. Hingga menjelang tidur, Darrel teringat pada nasib kupu-kupu besar. 

"Ma, kupu-kupunya dipindahin ke belakang saja." Pinta Darrel.


"Untuk apa...? Di belakang rumah banyak tikus, bagaimana kalau kupu-kupunya malah dimakan tikus...? Sudah, biar tergantung di rak ini saja." Ya, belakangan ini memang sedang musim tikus di rumah kami bagian belakang.

Kemudian nenek Darrel mendengar dan menawarkan solusi. "Bagaimana kalau kupu-kupu ini kita lepas saja di luar rumah...?"

"Jangan... Nggak mau! Biar di sini saja kupu-kupunya." Kata Darrel.

"Eh, kalau kupu-kupunya kita lepas di luar rumah, nanti dia bisa cari makan di luar, juga bisa bertemu teman-temannya." Bujuku, dengan terus berusaha memberikan alasan yang logis dan dapat diterima.

"Teman-temannya yang kecil-kecil itu, iya...? Kupu-kupu yang kecil itu, iya...?" Tampaknya Darrel mulai bersamangat.

"Iya... Nanti dia akan senang kalau di lepas dan bertemu teman-temannya di luar rumah." Dengan semangat, aku merasa jawaban ini akan mengarah pada ending yang kuharapkan.

"Oh..  Tapi kupu-kupunya biar di sini aja, jangan dilepas. Nanti biar teman-temannya yang kecil-kecil itu yang main ke sini, nemenin di sini. " Ia bertahan dengan jawabannya yang luar biasa hingga aku dan nenek Darrel harus memberi jeda untuk percakapan kami malam itu.

8/12/15

3 Poin Penting Sebelum Masuk sekolah PAUD/Play Group

Moms, sebenernya berapa besar sih kebutuhan anak kita pada sekolah pra-TK atau yang biasa disebut Pendidikan Usia Dini (Paud) atau Play Group....? Lalu, kapan anak harus masuk Play Group....? Mungkin pertanyaan ini sering kali muncul di benak kita ketika usia anak mendekati 3 tahun dan anak sudah mulai terampil. Begitupun dengan saya, ketika Darrel memasuki usia 2 tahun 9 bulan, ketika itu dia sudah memiliki kemampuan berbicara yang baik, dapat mengerjakan beberapa pekerjaan kecil, dan teman-temannya mulai masuk sekolah. Saya sempat kepikiran untuk memasukkannya ke sekolah juga, tapi niat itu saya urungkan ketika nenek Darrel memberikan beberapa pandangan lain. Karena saya masih ragu akan keputusan-keputusan saya, maka saya sempat mengajak teman-teman saya berdiskusi tentang hal ini. Nah, dari diskusi tersebut saya dapatkan beberapa point penting yang harus Moms perhatikan sebelum Moms memutuskan untuk memasukkan anak ke sekolah PAUD/Play Group.

3 Point Penting Sebelum Masuk Sekolah PAUD/Playgroup

1. Pastikan minat anak untuk ikut aktif di sekolah.
Berapapun usianya, ketika anak ngebet pengin ikut pergi ke sekolah maka Moms boleh mencobanyanya. Coba saja dulu, jika anak merasa nyaman di sana, lanjutkan. Sebaliknya, jika anak menolak untuk pergi ke sekolah maka Moms tidak perlu memaksanya. Memaksa anak untuk pergi ke sekolah tidak akan ada gunanya, justru membuatnya berontak dan trauma. Sebaliknya, biarkan anak memiliih apa yang ingin ia lakukan, dan sebagai orang tua kita terus berikan motivasi yang baik.

2. Bagaimana kondisi lingkungan rumah kita?
Sebenarnya kebutuhan anak pada usia 3-4 tahun lebih pada kebutuhan sosialisasi dan motivasi. Anak-anak akan lebih mudah bersosialisai dengan sebayanya. Ketika tempat tinggal Moms berdekatan dengan tempat tinggal anak-anak sebayanya maka kegiatan bersosialisi akan lebih sering dilakukan, kemudian motivasi dan kepercayaan diri si anak akan lebih mudah tumbuh. Tapi jika letak rumah Moms jauh dari teman-teman sebaya si anak, maka Moms perlu lebih sering membawa anak ke tempat-tempat yang banyak teman-teman sebayanya, seperti taman bermain, memanfaatkan momen-moment seperti pemeriksaan di posyandu dan menghadiri ulang tahun teman sebaya. Tapi kadang-kadang itu tidak cukup, dan Moms bisa memutuskan untuk memasukkan anak ke sekolah PAUD/Play Group. Sekolah PAUD/Play Group adalah salah satu wadah sosialisasi bagi anak-anak Moms.
Darrel bersama teman-temannya pada perayaan ulang tahunnya yang kedua.

3. Apakah anak bersama orang-orang yang tepat...?
Ada orang tua yang bisa menemani anaknya selama 24 jam penuh, ada juga yang tidak. Orang tua yang bisa 24 jam bersama anaknya memiliki kesempatan lebih banyak mengajak anaknya untuk belajar, bermain, bersosialisasi dan terus memberikan motivasi, tapi tidak sepenuhnya bagi orang tua yang bekerja di luar rumah. Bagi Moms yang bekerja di luar rumah dan mempercayakan anaknya kepada orang lain selama bekerja (pengasuh atau nenek) maka harus mengamati, bagaimana cara pengasuhan mereka. Apakah anak sering diajak berkomunikasi...? Apakah anak sering di berikan motivasi atau tidak..? Apakah anak diberi kesempatan untuk bersosialisasi di luar rumah atau tidak...? Setelah beberapa pertanyaan tersebut terjawab, Moms bisa menyimpulkan apakah Moms cukup dapat memepercayakan pengasuhan anak pada orang-orang yang ada di rumah atau Moms perlu memasukannya ke sekolah PAUD/Play Group
Darrel sedang mengagumi trail pada Parade Trail 2015, bersama teman-teman satu gang.

Setelah melakukan diskusi dengan beberapa teman, dan mendapatkan 3 poin penting di atas, saya jadi lebih mantab dengan pilihan saya menunda saat memasukkan Darrel ke sekolah PAUD/Play Group. Pertimbangan saya adalah, di sekitar tepat tinggal saya ada banyak anak-anak sebaya Darrel yang sering berkumpul dan bermain bersama maka ia cukup memiliki wadah untuk bersosialisasi. Pengasuh Darrel yang menjaganya selama saya bekerja juga memiliki kemampuan mengasuh yang baik, ia sangat komunikatif. Ia senang memberikan penjelasan-penjelasan yang logis pada Darrel dalam memberikan aturan maupun menjawab setiap pertanyaan Darrel. Ia juga memberikan Darrel jadwal rutin untuk bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Namun di luar itu semua, saya tetap berusaha mengamati minat Darrel untuk pergi ke sekolah dengan sesekali membawanya bermain ke sekolah terdekat. Ia senang berada di sana, tapi menatnya belum begitu besar. Maka saya akan terus memantau kedepannya.

Semoga 3 poin penting ini bermanfaat bagi Moms yang memiliki kegalauan yang sama dalam memasukkan anak ke sekolah PAUD/Play Group.

Terima kasih juga untuk teman-teman diskusi saya:
Adinda Dwitami, Veny Nurhandari, Cari Wijayanti, Niken Tripamikat Ingtyas, Nur Asyikin, Ginanjar Dimas Agung, Bronie Nira, Puz Brahim.



7/8/15

Anakku Berfikir Tentang Tanggung Jawab

Pada suatu malam, beberapa waktu yang lalu Darrel (2th 8bln) menangis karena tangannya terkilir saat bermain. Pas mau dikasih minyak gosok buat nyembuhin, dia menolak. Dia minta minum obat saja, tapi aku bilang bahwa kami tidak menyimpan obat untuk tangan terkilir. (Malam sebelumnya kami membaca cerita tentang anak yang sakit harus minum obat agar cepat sembuh, dan ternyata saat itu Darrel benar-benar mencamkannya). 

Dalam gendonganku, tiba-tiba Darrel melirik sebuah botol besar berisi talk 300gr, kemudian dia memintaku untuk menggosok tangannya dengan talk agar lebih nyaman. Aku membuka lubang botol talk kecil-kecil agar tidak mudah tumpah, kemudian menggosoknya. Setelah aku selesai menggosok tangannya, Darrel berinisiatif untuk menggosok tanganku juga. Aku berbaring, dan Darrel menggosok tanganku. Saat itu sudah hampir jam 10 malam. Tak terasa aku tertidur saking ngantuknya. Puk.. puk... aku terbangun oleh tangan yang menepukku. Whaaaa... Kagetnya minta ampun. Kasur tempatku berbaring sudah rata penuh talk. Pas aku angkat botol talk isi 300gr itu ternyata sudah ringan dan kosong. Darrel tertawa-tawa melihatku. Tanpa memarahinya, aku segera membersihkan kasur dan mengganti baju Darrel. Aku tidak mau ribut malam-malam, lagi pula menurutku memarahinya adalah perbuatan yang memperpanjang masalah dan bisa berdampak pada trauma.

Aku kemudian cuma bilang "Yaahh... Kalu kaya gini habis kan talknya."

Darrel langsung menjawab "Ya beli lagi aja.."

Aku bilang "Belinya kan di jogja, jauh... Jadi kita gak bisa beli sekarang."
Esok paginya Darrel bangun pagi-pagi sekali. Agak rewel, mungkin karena dia masuk angin. 

Pas aku gendong di dekat rak (tempat kami mengambil botol talk semalam) tiba-tiba dia bilang "Ma, kalu udah gede aku ke Jogja sendiri ya Ma... Naik bis sendiri..."

Tanpa berfikir macam-macam aku bilang saja "Iya..."

Karena penasaran, kenapa tiba-tiba Darrel mau ke Jogja, kulanjutkan dengan pertanyaan "Naik bis ya...? Ke Jogja mau ngapain Darrel...?" (aku mikirnya, dia akan bilang "mau ke rumah eyang" seperti biasa)

Eh ternyata Darrel bilang "Mau beli talk..."

Up's! Eh, astaga... Ternyata Derrel merasa bertanggung jawab atas insiden malam itu. 

Isi kepala anak-anak memang luar biasa. Sebagai orang tua sebaiknya kita cukup berhati-hati pada ucapan atau attitude kita, khususnya di depan anak. Katakan dan lakukan segala sesuatu dengan cara yang baik karena orang tua adalah role mode bagi anak. Memberikan penjelasan yang logis kepada anak akan berdampak baik pada cara mereka berpikir dan bersikap.

Monolog Menjelang Tidur Siang

Ceritanya, beberapa bulan yang lalu Darrel sempat melakukan imunisasi di Polindes tanpa kehadiranku. Maklumlah jam imunisasi yang ditetapkan Polindes adalah jam kerja, dimana aku juga harus bekerja pada saat itu. Mungkin saat itu Bidan Desa juga sempat ngobrol dengannya, seperti menanyakan "Mana Mamanya?". Imunisasi berikutnya, aku hadir bersamanya untuk melakukan imunisasi. Bidanpun menanyakan hal yang sama, "Mana Mamanya?" dll.

Suatu siang, dikala week end. Kami bertiga, aku, Darrel (2tahun 8bulan), dan ayah bersiap untuk tidur siang. Kami semua sudah berbaring di tempat tidur, tapi Darrel tidak juga memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, dia duduk di tempat yang sama kemudian berbicara seolah-olah sedang ngobrol dengan seseorang.

"Aduuhh..."
"Gak papa ya..? 
"Yaa...?" 
"Gak papa yaa..."
"Anak pinter kok."
"Ini mau disuntik, gak papa ya.." 
"Gak sakit kok." 
"Mana Mamanya...?"
"Mamanya kok gak ada?" 
"Mamanya mana?" 
"Yang itu?" 
"Yang itu...?" 
"Bukan...?" 
"Oo... Ini to Mamanya."

Rasanya geli sekali mendengarnya. Tapi di sisi lain Darrel berbicara tentang perasaannya, di mana dia sangat mengharapkan kehadiranku pada moment yang menurutnya penting seperti saat melakukan imunisasi.

7/4/15

Membiasakan Si Kecil Pergi ke Masjid

Ramadhan tahun ini Darrel (2th 8bln) hampir tiap hari pergi ke masjid sama ayahnya. Menurut cerita ayah, sejauh itu tidak pernah ada masalah tiap kali Darrel pergi ke masjid. Hanya saja, tiap kali pulang rambutnya selalu basah kuyup penuh dengan keringat.

Suatu hari aku juga pergi ke masjid bersamanya, meski Darrel cukup sulit diam, dia tetap menjaga suaranya. Hanya saja Darrel sempat tabrakan sama temennya pas lari-larian, terus nangis dehh. Saat itu aku pikir ini biasa aja.

Hari berikutnya, aku pergi ke masjid lagi bersamanya. Sebelum berangkat aku memintanya untuk tetap bersikap baik. Yasalamm... Ceritanya kami duduk di shaff belakang, dimana shaff depan kami juga ada anak laki-laki yg sebaya dengan Darrel. Awalnya tidak ada masalah, tapi Darrel mulai tidak bisa diam. Beberapa kali dia naik ke punggungku saat sujud. Waktu itu aku berfikir dia hanya akan melakukannya padaku (setahuku Darrel cukup menjaga sikap pada orang asing). Setelah berputar-putar di area sajadah, ia mulai berinteraksi secara fisik dan kode dg anak laki-laki di depannya. Beberapa menit kemudian, dia pergi ke shaff depan dan tiba-tiba menaiki punggung salah satu jamaah yg sedang sujud. Aduhh, sampe ngerasa benar-benar gak enak. Si anak laki-laki itu dengan suara pelan membujuk Darrel untuk pergi ke shaff ayahnya, tpapi Darrel menolak.

Bahkan dengan volume yg keras, dia bilang ke anak itu "Gak mau, aku di sini aja. Kita duduk di sini aja ya, gak papa. Tak temeni yaa..."

Berusaha mengendalikan situasi, aku mengajak Darrel pindah ke tempat yang agak berjarak sebelum jamaah witir dimulai. Tidak tahunya, pas ditinggal shalat dia malah nyamperin temennya.

Darrel bilang "Ayo, kamu ke sini. Gak papa, gak ada masalah kok. Ayo, tak temenin ini lhoo..."

Berikutnya dia malah nasehatin temennyai "Kalu di masjid itu gak boleh rame, yaa..." (tp dia ngomong pake volume yang keras). *tepok jidat

Entah sejak menit ke berapa mulainya, semua begitu cepat. Darrel dan anak laki-laku itu lari-larian gak berhenti di tengah masjid sambil teriak-teriak "Awass!!! Tembak!!! Duerrr derr derr....!!!" (Sampai shalat jamaah usai).

Note: 
Sebelumnya Darrel gak pernah main tembak-tembakan sama sekali, mungkin ini efek nonton film action bersamaku di TV pd malam sebelumnya.

Alhasil, shalat gak khusyu dan kami pulang dg muka pucat speechless. Entah bagaimana ceritanya sampai Darrel kelebihan energi begitu banyak malam itu. 

Untuk sedikit menata gejolaknya, malam stelah itu kami memutuskan untuk shalat di rumah dulu. Tapi malam-malam berikutnya Darrel kami ajak ke masjid lagi. Tidak bisa diam itu masih, wajarlah usia 2 tahunan memang masanya anak-anak aktif. Setidaknya Darrel sudah gak teriak-teriak lagi, semakin hari semakin mengerti dan terbiasa dengan suasana masjid yang tenang. Itulah cara kami membiasakan Darrel dengan masjid.

7/3/15

Atasi Masalah Tidur Karena Nyamuk - One Push Vape

Masalah yang sering kita hadapi saat anak kita bertumbuh salah satunya adalah masalah tidur. Kadang kala, anak harus rewel dulu kalau sudah merasa ngantuk, belum lagi kalu dia nangis saat kebangun. Biasanya Moms akan lega banget saat si kecil yang tadinya rewel jadi tidur pulas saking ngantuknya. Saat itulah Moms bisa beristirahat sejenak atau paling tidak Moms mendapatkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang tadinya tertunda. Tapi bagaimana kalau tidur nyenyak si kecil terganggu karena gigitan nyamuk...?? Si kecil sangat sensitif dengan gigitan nyamuk. Rasa gatal akibat gigitan nyamuk bukan saja membuat tidurnya kurang nyenyak, bahkan ia mungkin tidak bisa kembali tidur kemudian rewel. Belum lagi, gigitan nyamuk merupakan salah satu penyebab tertularnya berbagai penyakit. Penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk yang cukup populer di Indonesia antara lain, demam berdarah, malaria, dan cikungunya. Berbahaya sekali bukan...?

Nyamuk adalah binatang yang sangat suka hidup di tempat yang kotor, lembab, dan sumpek. Jadi kalau Moms ingin menghindari nyamuk, sebaiknya bersihkan dan tata tempat tinggalnya dengan baik. Kalau perlu pasang juga kelambu pada tempat tidur, dan kawat kasa pada ventilasi yang ada. Tapi datangnya nyamuk siapa yang tahu. Kalau pas lagi musim, kadang upaya kita mesti lebih ekstra lagi. Penggunaan obat nyamuk disarankan pada kondisi ini.

Ada banyak macam bentuk obat nyamuk, ada yang bakar, semprot, lotion, gel, elektrik, dsb. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, Moms bisa pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan. Satu tahun terakhir ini, aku pakai One Push Vape. Ini adalah obat nyamuk produksi PT Fuma Kila. Ada 2 varian aroma, yaitu orange dan green tea. Aroma obat nyamuk ini sangat ringan dan gak bikin pusing. Belum lagi segi kepraktisannya, One Push Vape tidak perlu berulang kali di semprotkan sepanjang tidur. Cukup satu kali semprot dan nyamuk tidak datang lagi selama 10 jam. Botonya sangat kecil, dengan kapasitas 10 ml. Dengan ukaurannya yàng kecil, obat nyamuk ini mudah dibawa saat bepergian. Bukankah perlengkapan si kecil cukup banyak jika harus ditambah botol obat nyamuk semprot yang lebih besar. Meski hanya 10 ml, obat nyamuk ini efektif dipakai hingga 30 kali semprot. Jadi Moms tidak harus bolak-balik beli obat nyamuk dalam sebulan.

Sebelum tidur sebaiknya Moms bersihan tempat tidur dan ruanganya, kemudian semprotkan One Push Vape ke dalam ruangan hingga khasiatnya menyebar. Baru dehh, Moms ajak si kecil untuk tidur ditempat tidur yang bebas nyamuk. Dan si kecil bisa tidur lebih tenang.

Perayaan Hari Anak Nasional

Memperingati hari anak nasional, beberapa waktu yang lalu rombongan siswa playgroup dan TK di daerah kami berkumpul dalam perayaan di sebuah lapangan. Meski Darrel belum sekolah, pagi itu dia ingin sekali datang ke sana untuk bermain di sana. Terang saja, semua teman sepermainannya di kampung semua pergi untuk menghadiri perayaan itu. 

Lapangan begitu ramai penuh sesak saat kami sampai. Yang menarik, ratusan anak-anak yang datang semua berpakaian unik handmade berbahan barang bekas dan daun-daunan. Selain itu ada banyak orang-orangan sawah di setiap titik menghiasi lapangan. Sesekali Darrel menyenggol orang-orangan sawah itu saking penasarannya. Di sisi panggung juga ramai dengan pementasan, ada yang menyanyi, ada yang menari, ada yang berpuisi. Wahh... hebohh sekali. Di sisi yang lain ada rompongan penjaja makanan dan mainan untuk anak-anak. Tentu saja, anak seusia Darrel langsung leleh lihat mainan. Kali itu dia minta balon bergambar sepeda motor (alat transportasi memang salah satu favorit Darrel). Semakin siang, semakin panas, semakin lelah. Kami mulai mencari tempat yang lebih nyaman. Kami pergi ke sisi lapangan yang lebih lega dan teduh. Tempat istirahat kami cukup nyaman karena dilengkapi dengan display kerajinan tangan anak-anak. Darrel sangat asyik melihat-lihat kerajinan tangan yang hampir seluruhnya berbahan dasar sampah dan daun-daunan itu. Kerajinan tangan yang menarik baginya adalah beberapa ekor kupu-kupu yang terbuat dari daun-daun kering dan potongan kecil styrofoam. Dan yang menarik lagi, sketsel yang dipakai untuk mendisplay berbahan bambu yang dianyanm kasar. Tampaknya perayaan hari anak nasional kali ini baik untuk mengajarkan kesederhanaan bagi anak-anak.

Selamat Hari Anak Nasional... Semoga, masa kecil anak-anak kita, yg dilalui dengan kesederhanaan dan apa adanya ini menjadi kenangan terindah bagi masa depannya kelak. Semoga kebahagian-kebahagiaan kecil di masa kecilnya menjadi penguat kala mereka dewasa nanti. Tumbuh menjadi jiwa yang berbahagia ya, nak... we luv you

Masalah Makan pada Anak

Ada yg punya masalah susah makan pada balita atau anak-anak...? Balita dan anak-anak cenderung pemilih dalam mengkonsumsi makanan. Masalah pertama ada pada tekstur makanan. Kadang maunya makan yang halus aja, gak mau yg kasar. Balita khususnya sering sekali mengeluarkan makanan dari mulutnya jika merasa tekstur makanan yg mereka makan kasar dan sulit ditelan. Masalah ke dua, balita dan anak-anak sangat pemilih dalam rasa. Mereka cenderung menyukai makanan yang gurih luar biasa atau manis luar biasa. Disisi lain rasa gurih luar biasa lebih banyaak dihasilkan oleh bumbu-bumbu instan pada snack. Nah lohh, padahal dlm masa ini balita dan anak-anak membutuhkan gizi yg baik untuk menunjang pertumbuhannya.

Menurut penelitian, salah satu makanan yg baik bagi pertumbuhan balita dan anak-anak adalah ikan, karena terdapat kandungan mineral seperti yodium, selenium, dan vitamin E yg baik untuk pertumbuhan sel, vitamin B untuk mencegah berbagai masalah kesehatan, Vitamin D untuk tulang yg kuat, protein baik seperti taurin yg merangsang pertumbuhan sel otak, dan yg paling sering kita dengar adalah omega 3, yaitu lemak yag meningkatkan pertumbuhan sel otak dan mencegah penyakit degeneratif. Demi menunjang pertumbuhan yg baik pada anak-anak kita, mestinya sebagai orang tua kita semakin cermat dalam menjaga kualitas dan kuantitas konsumsi makanan anak-anak kita. 

Kini ada solusi untuk itu Moms, makanan sehat, lezat, bergizi, dan siap santap: MARLINA ABON!! Abon ikan, dengan bahan dasar ikan marlin segar dari laut selatan Pacitan. Dengan bumbu-bumbu alami, tahan lama tanpa pengawet buatan, rasanya gurih lezat, sehat bergizi, dan siap santap. Rasa ikan segar dan bumbu-bumbu alaminya cocok di lidah balita dan anak-anak Moms, teksturnya halus sehingga mudah ditelan. Tanpa harus ribet MARLINA ABON siap disantap dengan nasi atau sebagai tambahan snack. Silahkan diorder bagi yg berminat...  
Rp. 15.000,-/100gr >> PIN 54767F88

7/2/15

Partisipasi dan Imajinasi dalam Kegiatan Finger Painting

Lima hari seminggu, aku harus pergi bekerja, meninggalkan Darrel yang berusia hampir 3 tahun. Aku ingin selalu mendapatkan waktu yang berkualitas dengannya setiap week end tiba, tetapi beberapa waktu terasa agak sulit. Sabtu itu, kami hanya berdua di rumah. Pertama, aku memasak sarapan pagi untuknya. Tidak seperti yang banyak orang bayangkan, hanya beberapa potong pancake untuk sarapan pagi.  

Satu per satu, keluarga kami pergi untuk bekerja pagi itu. Hanya, tinggal Darrel dan aku di rumah. Setelah mandi, sarapan pagi, kami pergi ke halaman untuk bermain bermain. Cuaca hari ini sangat panas, sinar matahari lagi terik-teriknya. Aku memutuskan mengajak Darrel bermain di dalam rumah saja. Ini adalah hari Sabtu, tapi kami tidak menemukan acara TV yang cukup menarik untuk ditonton bersama. 

Iseng-iseng pergi ke dapus dan membongkar-bongkar stok, aku menemukan tepung kanji, terigu dan beberapa pewarna makanann dalam kondisi yang masih baik. Jadi kepikiran mau bikin finger painting sama Darrel. 

"Darrel ayo kita bikin finger painting yuuukkk..."

Darrel pun turun ke dapur dan kami mempersiapkan segalanya, step by step.

Darrel menuangkan beberapa takar tepung kanji dan terigu kadalam panci, kemuadian kami mecampurnya dengan sedikit air. 

Adonan yang sudah campur kupanaskan di atas api, sambil diaduk-aduk sampai berubah warna. Setelah itu pancipun diangkat dari api. Bagian ini, Darrel belum ku ijinkan untuk berpartisipasi karena bagiku masih cukup berbahaya jika anak seusianya bermain-main dengan api atau perkakas dapur yang panas ini.

Adonan yang sudah jadi ku tuang ke 2 wadah berbeda untuk diberi warna merah dan hijau. Karena suhu adonan sudah mulai turun, Darrel pun kuijinkan untuk ikut mengaduk adonan berwarna itu hingga campur.

Yippiiii.... Adonan finger painting-nya sudah jadi. Bagiku sangat menyenangkan saat Darrel kecil ikut berpartisipasi.  

Sebelum mulai menggambar, kami membuat kesepakatan, bahwa:
1. Sebelum finger painting kami selesai, kami tidak akan berpindah untuk melakukan kegiatan lain.
2. Sebelum tangan, kaki, dan peralatan dibersihkan dari adonan, kami tidak boleh memegang benda lain.
3. Kegiatan finger painting dilakukan hanya pada gambar kertas yang disediakan.  

Ternyata Darrel benar-benar memahami kesepakatan yang kami buat. Kareana semuanya berjalan lancar.


Kami tertarik untuk menggambar banyak objek seperti bulan, bintang dan bunga. Darrel bilang, dia menggambar naga, tikus, kura-kura, dan beberapa hewan lain. Ia mengoles tangan pada campuran pewarna kertas sesuai apa yang dia pikir. Dia menunjukkan padaku di mana letak mata tikus dibuat, kakinya, ekornya, dan perutnya. Dia juga menunjukkan keju yang dimakan oleh tikus itu. Sebenarnya aku tidak benar-benar melihatnya, tapi kukatakan padanya seolah aku benar-benar tahu, untuk memberinya apresiasi. Aku pikir itu akan baik untuk imajinasi dan kreativitas. Hasilnya, tadaaa ... kami menyelesaikan 5 buah karya finger painting. Berasama-sama, kami menjemurnya di halaman dan membersihkan semua peralatan bersama-sama.  

Karena lelah, kami beristirahat sambil menunggu finger painting kami kering. Minum secangkir teh dan makan beberapa potong pancake yang tersisa. Ahh ... senangnyaa. Lihat Darrel axcited banget kan nungguin karynya. Setelah makan siang, kami membersihkan tubuh dan pergi tidur. Sabtu sempurna.